Menu
RSS
Bekas Gedung SD Baledono IV Dibiarkan Mangkrak

Bekas Gedung SD Baledono IV Dibiark…

Sejak di regruping dengan...

Pemkab Berikan Penghargaan Untuk Masyarakat Berprestasi

Pemkab Berikan Penghargaan Untuk Ma…

Momen Hari Kebangkitan Na...

Wagub Rustriningsih  : Masalah Kesehatan Tidak Bisa Diselsaikan Satu Pihak

Wagub Rustriningsih : Masalah Kese…

Wakil Gubernur Provinsi J...

Bazar dan Lomba Warnai 8 Windu SMP Bruderan

Bazar dan Lomba Warnai 8 Windu SMP …

Berbagai kegiatan digelar...

TMMD Sengkuyung Dipusatkan di Desa Kalijering

TMMD Sengkuyung Dipusatkan di Desa …

Kegiatan TNI Manunggal Me...

PN Purworejo Gagal Eksekusi Tanah Sengketa

PN Purworejo Gagal Eksekusi Tanah S…

Pengadilan Negeri (PN) Pu...

Musik Hadroh Akan Diperlombakan di Harkop

Musik Hadroh Akan Diperlombakan di …

Dalam rangka memeriahkan ...

Tari Ndolalak Kolosal Meriahkan Hardiknas

Tari Ndolalak Kolosal Meriahkan Har…

Sekitar 500 penari ndolal...

Purworejo Mendapat Opini WTP

Purworejo Mendapat Opini WTP

Kerja keras jajaran Pemer...

FASI Tahun 2013 Semarak

FASI Tahun 2013 Semarak

Kekhawatiran tidak suskse...

Prev Next

Susu Kambing PE Bisa Sembuhkan Beberapa Penyakit

Susu Kambing PE Bisa Sembuhkan Beberapa Penyakit

Minum susu instan buatan pabrik yang berbahan baku susu sapi, merupakan hal yang umum. Berbeda dengan kebiasaan minum susu kambing yang masih langka dijumpai, bahkan mungkin masih dianggap aneh oleh sebagian orang. Padahal dengan minum susu kambing, disamping berguna bagi pertumbuhan anak, diyakini bisa menyembuhkan beberapa penyakit.

 

Memelihara kambing Peranakan Etawa (PE) ternyata semakin menguntungkan. Disamping dijual anaknya sebagai bibit, kotorannya pun bisa mendatangkan uang dijual sebagai pupuk organik. Keuntungan semakin lengkap, setelah inovasi baru dengan memanfaatkan susunya untuk dikonsumsi manusia. Apalagi dengan minum susu kambing PE, diyakini bisa menambah kesehatan dan mengobati beberapa penyakit, seperti tuberkolusis (TBC), penyakit kulit, anemia, kolesterol, liver dan lain-lain.

 

Salah satu pembuat susu instan dari kambing PE adalah kelompok wanita tani  “Anjani” Desa Tlogoguwo Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Ketua kelompok wanita tani “Anjani”, B Suwarti (41), mengisahkan bahwa memelihara kambing PE sudah bagian dari kehidupan masyarakat Desa Tlogoguwo sejak puluhan tahun silam secara turun temurun dari nenek moyangnya.

 

Memelihara kambing PE awalnya hanya untuk diambil anaknya sebagai bibit untuk dijual. Disamping itu untuk dimanfaatkan kotorannya sebagai pupuk organik. Dengan semakin tingginya permintaan kambing PE dan pupuk organik, masyarakat setempat yang memlihara kambing PE bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. “Bahkan ada beberapa keluarga bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi,” ungkap warga Dusun Sumoroto Rt 01/Rw 05 Desa Tlogoguwo ini.

 

Seiring perkembangan teknologi yang diimbangi peningkatan kebutuhan hidup masyarakat, munculah ide baru untuk memanfatkan susunya sebagai konsumsi manusia. Dikisahkan, saat itu sekitar tahun 1986 keluarganya didera masalah keuangan rumah tangga. Untuk mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari sangat sulit, apalagi membeli susu untuk kedua anaknya. Padahal saat itu kedua anaknya masih balita, yang mebutuhkan susu untuk pertumbuhan.

 

“Waktu itu keuangan keluarga sangat sulit. Untuk membeli susu saja rasanya sudah tidak mampu lagi. Karena kambing PE sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sini, akhirnya saya coba-coba memerah susu kambing yang saya miliki. Dari hasil perahan, susu saya masak dan saya minumkan ke anak saya. Dari pengamatan saya, anak pertumbuhannya semakin bagus, kecerdasannya meningkat, anak semakin aktif, daya tahan tubuh terhadap penyakit semakin kuat. Kemudian kebiasan itu, saya sosialisasikan kepada tetangga saya,” kenang ibu dari dua anak yang saat ini telah duduk di perguruan tinggi.

 

Berawal hanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga sendiri, kemudian berkembang pemikiran apa salahnya bila diproduksi untuk orang lain, sekaligus sebagai lahan bisnis menambah pengasilan keluarga. Akhirnya sekitar tahun 2006, diproduksi dengan skala lebih besar.

 

Untuk mengelolanya, maka ditahun tersebut didirikan kelompok wanita tani yang diberi nama “Anjani” beranggotakan 35 orang. Mereka menyetor hasil perahannya, tiap hari rata-rata antara 10-15 orang. Tiap orang antara 1-2 liter susu segar kambing PE. Tiap liter susu segar dihargai antara Rp 17.500-Rp 20.000.

 

Sedangkan dari kambing yang ia pelihara sebanyak 60 ekor dari dua jenis kelamin dan bebagai usia, tiap hari rata-rata bisa diperah lima ekor indukan. Di kelompoknya tiap hari bisa terkumpul antara 25-30 liter susu. Susu tersebut selanjutnya diolah menjadi susu instan setiap dua hari sekali. Untuk keperluan tersebut, pihaknya memperkerjakan 4-5 orang dari anggota kelompok. Penggajiannya berdasarkan paket. Tiap paket 2 liter susu, dengan imbalan Rp 4.000. Tiap hari para pekerja bisa membawa uang Rp 10.000-12.000.

 

Dibeberkan bahwa kambing PE bisa diperah saat menyusui. Namun agar tidak mengganggu perkembangan si anak (cempe), induk diperah setelah cempe berusia empat bulan.  Saat cempe sudah berusia empat bulan, barulah disapih dan induknya diperah. Indukannya bisa diperah hingga empat bulan kedepan. Dengan pola seperti itu, peternak mampu memperoleh keuntungan ganda. Harga anakan umur empat bulan sama dengan harga perolehan penjualan susu selama empat bulan juga. Harga anakan umur empat bulan sekitar Rp 1 juta hingga Rp 1,25 juta, perolehan uang hasil penjualan susu juga sekitar itu.

 

Kambing bisa diperah sekali dalam sehari, tidak tergantung waktu. Hanya biasanya peternak memerah sore hari, pertimbangannya kambing sudah , sehingga saat diperah tidak terlalu banyak bergerak. Sebelum diperah, puting dibersihkan terlebih dahulu dengan air hangat untuk menjaga kebersihan. Kemudian diolesi sedikit  minyak goreng agar licin saat diperah.

 

Untuk menjaga agar susu tidak tercemar bau kotoran, saat memerah di depan kandang dengan berlawanan arah angin. Sehingga bau kotoran tidak masuk ke perahan susu. Saat memerah, hindari tindakan yang kasar, karena lapisan kulit pada puting sangat halus/ tipis, berbeda dengan sapi yang lebih tebal. Bila perlakuannya kasar, kambing akan bergerak-gerak.

 

Tiap kambing bisa menghasilkan susu segar antara 1-2 liter, tergantung hijauan yag dimakan. Jenis rerumputan sangat bagus untuk meningkatkan produksi susu, karena kaya serat. Berbeda dengan kaliandra yang cenderung menurunkan produksi susu. Karena tanaman ini mengandung zat yang bisa mengikat susu, sehingga susu yang keluar sedikit. Untuk menjaga kesehatan, kambing dimandikan setiap minggu sekali. Kebersihan kandang harus terjaga. Tiap dua liter susu segar, setelah dimasak akan menghasilan susu instan sekitar 1,8 kg

 

Saat ini susu diproduksi menjadi empat jenis, yaitu susu segar, karamel, bubuk, dan krupuk. Susu segar hasil perahan bisa langsung dimasak. Apabila belum akan dimasak, disimpanlah dalam freser agar tidak rusak. Awalnya susu kambing dikonsumsi dalam bentuk susu segar. Caranya direbus jangan sampai mendidih (sekitar suhu 70-80 derajat celcius). Karena bila sampai mendidih susu justru rusak.

 

Melalui keinginan untuk membuat produk olahan susu yang awet, maka ide kreatif mengantarkannya merintis usaha pengolahan susu ettawa yang dapat dikonsumsi secara instan dan awet dalam kurun waktu cukup lama. Kemudian muncul invonasi baru, dibuat karamel. Caranya susu direbus sekitar 2,5 jam. Untuk memberi rasa manis campurkan sedikit gula pasir. Setelah mengental tuangkan dalam salah satu tempat kemudian diiris-diris dan dikemas.

 

Kemudian muncul kreatifitas baru untuk membuat menjadi susu bubuk instan. Pengolahannya sama dengan karamel, hanya pemanasannya lebih lama. Setelah dimasak sekitar tiga jam, susu akan mengkristal. Sedangkan pembuatan krupuk susu, dengan cara dicampur tepung tapeoka dan bumbu lainnya. Susu olahan yang berbentuk padat lebih tahan lama bila dibanding bentuk cair. Bila disimpan ditempat yang kering, karamel bisa tahan hingga 4-6 bulan. Bubuk bisa satu tahun atau lebih. Demikian juga krupuk susu. Produk ini masih dibuat secara manual, dan tanpa bahan kimia lainnya.

 

Penjualan sudah merambah berbagai kota besar seperti Semarang, Bandung, Jakarta. Promosi disamping mengikuti pameran yang diselenggarakan pemerintah maupun swasta, juga cerita dari mulut ke mulut. “Biasanya orang membeli anakan PE, kemudian melihat ada produk susunya, ikut membeli. Atau informasi masyarakat setempat kepada keluarganya yang berada di luar kota. Kemudian mereka membeli baik datang sendiri maupun titip sama tetangganya,” katanya.

 

Penjualan masih dilakukan secara langsung dirumahnya. Ia belum berani menitipkan ke toko atau swalayan, karena kemampuan produksi yang masih minim. Jenis karamel satu kemasan berisi 20 biji dijual Rp 7.500, isi 40 buah Rp 30.000. Bubuk dalam kemasan alumunium foil 120 g seharga Rp 20.000. Sedangkan krupuk kemasan 0,5 kg seharga Rp 10.000.

 

Ia mengakui konsumen susu kambing PE sangat tinggi. Namun untuk meningkatkan produksi terkendala alat. Saat ini hanya dikerjakan secara manual, belum tersentuh teknologi modern, sehingga hasil produksi bisa berbeda-beda. Disamping kemampuan produksi terbatas, ia memproduksi, berdasarkan stok yang tersisa. Bila yang mendekati habis karamel, maka pihaknya membuat karamel, demikian sebaliknya.

 

Untuk meningkatkan kemampuan produksi dan kualitas,  pihaknya terkendala peralatan. “Saya butuh evapulator namun harganya mencapai Rp 100 juta. Yang bisa saya lakukan hanya mengolah secara manual dengan produksi dan kualitas yang tidak standar,” katanya.

back to top