PRONA 2013 Akan Sertifikatkan 3500 Bidang Tanah http://t.co/qbu9d3bMfe
PRONA 2013 Akan Sertifikatkan 3500 Bidang Tanah http://t.co/qbu9d3bMfe
Kasminah adalah salah satu pelaku industri kecil dan menegah yang bergerak di bidang makanan dengan bahan baku berbasis ketela. Adapun produk yang dihasilkan berupa makan ringan bernama krimpying yang merupakan makanan khas dari Kabupaten Purworejo.
Sudah sejak dari tahun 1998, Yu Kas (panggilan akrab dari pemilik usaha tersebut) sudah merintis usaha ini. Ia sudah kenyang makan asam garam dalan dunia pembuatan krimpying dan sudah melakukan banyak uji coba hingga menemukan formulasi krimpying seperti sekarang ini.
Sebagai bentuk perhatian dari pemerintah terhadap usaha tersebut, diwujudkan dalam pendampingan GMP (Good Manufacturing Practice). GMP adalah suatu pedoman yang menjelaskan bagaiaman memproduksi makanan agar aman bermutu, dan layak untuk dikonsumsi dan berisi penjelasan-penjelasan tentang persyaratan minimum dan pengolahan umum yang harus dipenuhi dalam penanganan bahan pangan di seluruh mata rantai pengolahan dari mulai bahan baku sampai produk akhir .
Penerapan GMP akan dapat membantu pelaku usaha untuk membangun suatu sistem jaminan mutu yang baik. Jaminan mutu sendiri tidak hanya berkaitan dengan masalah pemeriksaan (inspection) dan pengendalian (control) namun juga menetapkan standar mutu produk yang sudah harus dilaksanakan sejak tahap perancagan produk (product design) sampai produk tersebut didistribusikan kepada konsumen.
Tim dari Dinas Perindag Provinsi Jawa Tengah dan Dinas Perindagkop Kabupaten Purworejo melaksanakan pendampingan GMP di tempat produksi Krimpying Yu Kas, beberapa waktu lalu. Pada proses pendampingan tersebut tim melakukan dengan dua metode yaitu dengan pengamatan langsung dan wawancara. Pengamatan dilakukan dari awal produksi yaitu persiapan bahan baku hingga proses pengepakan, baik dari sisi pekerja, tempat kerja, cara kerja dan lingkungannya.
Pada umumnya proses produksi di tempat Kasminah sudah bagus, "80% sudah baik, tinggal perlu penambahan dan perbaikan sedikit disana sini" ungkap Ibu Budi yang merupakan pendamping utama pada pelatihan GMP tersebut.
Setelah dilakukan pengamatan dan wawancara ada rekomendasi yang disampaikan oleh Tim kepada Kasminah dalam peningkatan mutu produk. Diharapkan produk yang dihasilkan semakin bermutu dan usaha dari Kasminah semakin berkembang.
Kendati Kabupaten Purworejo bukan daerah tujuan utama wisatawan, namun memiliki kekayaan kuliner yang tidak kalah. Bayak jajanan khas kabupaten yang sudah berusia 1111, dapat dinikmati para wisatawan baik domestik maupun manca negara. Makanan khas Purworejo itu, diantaranya kue lompong, yang sudah ada sejak puluhan tahun silam dan dibuat secara turun temurun.
Kue lompong adalah kue basah manis yang terbuat dari adonan tepung beras ketan, gula kelapa, gula pasir dengan isi bulir kacang tanah di dalamnya. Kue lompong menjadi menarik karena bentuknya seperti kue mata sapi tetapi berwarna hitam. Warna hitam pada kue ini berasal dari tanaman lompong atau lumbu atau talas yang dilumatkan dan dicampur ke dalam adonan kue. Di samping itu, kue ini dibungkus menggunakan klaras atau daun pisang yang sudah kering
Sentra pembuatan kue lompong ada di Kelurahan Pangenrejo dan Pangen Jurutengah dan sebagian Kledung Kradenan. Kendati di luar desa tersebut ada yang membuat, namun skalanya kecil. Pemasaran hingga luar kabupaten seperti Yogyakarta, Muntilan, Magelang. Makanan itu tidak menggunakan bahan kimia seperti pewarna dan pengawet, sehingga masih aman dikonsumsi manusia. Cara pengolahannya pun masih sederhana dan tradisional, belum tersentuh teknologi modern.
Salah satu pembuatnya, Meiske Lystya Permatasari, (28), warga Jl Tentara Pelajar no. 24, ketika ditemui di rumahnya sekaligus sebagai sebagai tempat usaha, mengungkapkan bahwa ia membuat kue lompong sejak puluhan tahun silam. Keahliannya diperoleh dari kakeknya semasa masih hidup. Kemudian dilanjutkan ibunya, Ruth Ekayanti, yang sampai sekarang juga masih memproduksi. Setelah ia berkeluarga dan menempati rumah sendiri, ia juga membuat dan memasarkan hasil usahanya.
Tiap hari ia mampu menghabiskan tepung beras ketan sekitar 15 kg. Tiap satu kg beras ketan, membutuhan kacang tanah sekitar 7 ons. Ia dibantu 6 orang pekerja. Cara membuatnya, adonan tepung beras ketas diberi garam secukupnya, kemudian diaduk hingga kalis. Dibuat bulat-bulat, dan diisi adonan pecahan kacang tanah yang dibumbui gula kelapa. Setelah itu dipipihkan. Warna hitam sebagai cirikasnya, menggunakan tanaman lompong atau talas yang dibakar.
Setelah itu dibungkus menggunakan daun pisang kering (klaras) yang telah dibesirhan dan sedikit dilumuri minyak kelapa. Bahan pembungkus ini ternyata belum bisa digantikan bahan lain, seperti plastik maupun daun bambu. Ia mengaku pernah mencoba beberapa alternatif bungkus, namun tidak bisa selalu lengket. Demikian juga klarasnya harus kering secara alami. Daun pisang kering dengan cara dijemur, teryata membuat kue mudah busuk.
Bungkusan diikat tali dari oman (gagang padi). Bahan tersebut sampai saat ini tetap dipertahankan sebagai ciri kasnya. Baru dikukus selama 2 jam. Pihaknya juga mencampurkan bumbu rempah-rempah, namun ia rahasiakan, sebagai ciri kas kue buatannya. Produksinya telah didaftarkan di Dinas Kesehatan Kabupaten Purwoejo dan mendapatakan regster perusahaan industri rumah tangga (PIRT)
Kue ini bisa bertahan hingga dua minggu bila tidak dimasukkan dalam lemari pendingin. Bila dimasukan di lemari pendingin bisa mencapai satu bulan. Bila mengeras ia menyarankan dikukus kembali. Ia membuat dua ukuran kue, besar dan kecil. Tiap satu kg beras ketan bisa dibuat sekitar 45 bungkus ukuran kecil, dan 55 ukuran besar.
Pemasaran dengan model dititipkan ke toko-toko penjual jajanan khas dan harga murah meriah. Yaitu 1000 rupiah untuk kue lompong bungkus ukuran kecil, dan 1.500 untuk ukuran besar, serta 2000 rupiah untuk penjualan di luar kota. Kue lompong buatannya diberi embel-embel nama Purworejo dibelakangnya, ternyata lumayan sukses menarik minat konsumen.
Terbukti dengan jumlah jaringan pemasarannya yang kini mencapai 50 toko yang tersebar di wilayah Purworejo, Secang, Magelang dan Yogya. Biasanya penjualan kue Lompong akan meningkat menjelang masa liburan sekolah dan lebaran.
Pemerintah Propinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), akan menyelenggarakan lomba cenderamata khas Jawa Tengah, tahun 2012. Lomba bersifat terbuka untuk umum bagi warga masyarakat Indonesia yang bedomisili di kabupaten/ kota se Jawa Tengah. Bagi para juara akan mendapatkan penghargaan dengan total hadiah Rp 25 juta. Pendaftaran dimulai tanggal 11 April sampai 11 Mei 2012. Bagi yang berminat agar mengisi formulir pendaftaran, dengan melampirkan, menyerahan hasil karya seni cenderamata dan kemasan yang digunakan, disertai penjelasan sumber inspirasi pembuatnya, biaya produksi yang digunakan. Selain itu juga fotokopi KTP, surat rekomendasi dari Dekranasda kabupaten/kota setempat, paspoto ukuran 4X6 cm berwarna 2 lembar, serta membayar biaya pendaftaran Rp 50.000 untuk setiap cenderamata yang dilombakan. Semua karya yang masuk menjadi milik panitia.
Cenderamata diperbolehkan 2 atau 3 dimensi. Ukuran packing maksimal sisi terpanjang 25 cm, berat maksimal 3 kg. Cenderamata terbuat dari bahan baku jelas seperti kayu, batu logam dan bahan lainnya yang tidak mengandung racun atau berbahaya bagi kesehatan. Desain berbentuk grafis/ gambar teknik dengan menggunakan kertas A3, terdapat penjelasan tentang ide/konsep, bahan dan teknik, satuan ukuran dan biaya produksi atau harga pokok. Berbentuk model asli, harga terjangkau dan dapat diproduksi secara masal. Desain harus praktis untuk dibawa dan mudah untuk dikemas, serta bernuansa Jawa Tengah.
Pengumuman dan penyerahan penghargaan akan dilaksanakan Kamis (24/5), di Poncowati Ballrom, Patra Convention Hotel, Jl Sisimangaraja Semarang. Untuk lebih jelasnya bisa menghubungi sekretariat lomba dengan alamat, Sie Industri Tektil Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Propinsi Jawa Tengah, lantai 4. Atau bisa kontak person Azizah SIP (08164893392), Maria Eka Yuliani SE (08164893392), Etik Puji Lestari (081225598898), Ruslina Susanti SE (081326062860).
Karena keseriusan Purworejo dalam mengisi program di Anjungan Jateng TMII, maka Gubernur Jateng melalui Kantor Perwakilan Jateng di TMII menyerahkan piagam penghargaan kepada Bupati Purworejo, di TMII Jakarta., Minggu (18/3). Sebelumnya juga diserahkan piagam dari paguyuban Purworejo dan dari Warta Kota Jakarta, yang juga langsung diterima Bupati Purworejo. Kepala Kantor Perwakilan Jawa Tengah Anjungan Jawa Tengah TMII Drs Koedarminto MM, menyampaikan terimaksih kepada Purworejo yang bisa menampilkan seni budaya lokal dengan baik dan meriah. “Kami harapkan bagi kabupaten lain juga akan berbuat sama seperti Purworejo dalam mengisi acara di Anjungan Jateng TMII,”harapnya.
Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain MAg menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Purworejo mempunyai komitmen untuk terus melestarikan dan nguri-uri seni budaya asli dari Purworejo. “Siapa lagi kalau bukan masyarakat Purworejo sendiri yang melestarikan, termasuk warga Purworejo yang ada di Jakarta juga harus ikut melestarikan. Makanya, kalau masyarakat Purworejo yang ada di Jakarta punya gawe, ya nanggap seni dari Purworejo” harapnya.
Gelar seni budaya dan bazaar produk Purworejo di Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, memang menjadi gelar seni budaya yang tak biasa. Pasalnya, banyak pejabat Purworejo yang hadir, antara lain Bupati Purworejo, Sekda Purworejo, Ketua DPRD, Wakil Ketua DPRD dari PKB, Kepala Dishubkominpar, Kepala Diperindagkop, Kepala BKD, dan Sekretaris KPU, Kabag Kesra, dan Kabag Perekonomian.
“Ini pentas yang tidak biasanya mas, begitu meriah dan padat pengunjung,“kata Dedy salah seorang staf di Anjungan Jateng TMII.
Ketua Paguyuban Jateng Sutrisman SH, Ketua Pakuwojo Zaenal Arifin dan Slameto SE MM juga hadir menyaksikan pentas seni budaya. Bahkan warga Purworejo di perantauan yang tergabung dalam berbagai organisasi, ikut memadati anjungan Jateng TMII sejak pagi. Alhasil, gelar atau bazaar produk Purworejo habis diserbu.
Berbagai makanan seperti clorot, kue semprong, manggis, susu kambing PE, karamel susu PE, krupuk, gula jawa, gula aren, bakpia, diserbu warga yang kangen makanan Purworejo. Jenis makanan khas seperti geblek dan tempe goreng juga langsung diserbu. Sampai-sampai penjaga stand dari Dishubkominpar kewalahan melayani pembeli. Mereka bahkan rela antri menunggu gorengan matang.
“Memang kami menginginkan agar dalam program Gubernur Jawa Tengah untuk 35 kabupaten/kota di anjungan Jateng TMII ini, selalu menampilkan seni budaya yang berbeda. Kalau beberapa waktu lalu Purworejo menampilkan Dolalak, sekarang kami minta seni yang lain seperti Kuda Kepang Kolaborasi,“ kata Kasubag TU anjungan Jateng TMII Retno Indarti SH.
Kali ini memang Purworejo menampilkan seni Kuda Kepang Kolaborasi gabungan seniman Purworejo dari kecamatan Purworejo, Bagelen, Kemiri, Pituruh dan Loano. Tampilan mereka menjadi lebih semangat, karena warga Purworejo yang tergabung dalam wadah CPP (Cah Perantau Purworejo) yang masih muda-muda, terus melakukan yel-yel hidup Purworejo.