PRONA 2013 Akan Sertifikatkan 3500 Bidang Tanah http://t.co/qbu9d3bMfe
Forum Komuniaksi Anak Kabupaten Purworejo (Forkare) yang dideklarasikan Juli 2012 lalu, telah melakukakan berbagai kegiatan. Diantaranya mengadakan lomba poster tentang hak anak, mengadakan lomba geguritan, serta mengadakan sepeda santai. Dan kegiatan yang baru dilaksanakan adalah seminar pelajar ketua OSIS, di pendopo kabupaten, Rabu (10/4). Seminar yang mengambil tema “Pelajar Purworejo bebas kekerasan” dihadiri Bupati, Kadin P dan K, unsur Polres, dan dinas instansi terkait.
Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain MAg mengatakan kekerasan di tingkat pelajar biasanya karena miskomunikasi atau kurang menjalin keharmonisan diantara para pelajar. Belum lagi diera global ini tersedianya informasi yang bebas, bisa diakses kapan saja melalui internet. Era global akan membawa perubahan yang mendasar baik sosial, politik, budaya dan sebagainya.
“Jika mengikuti perubahan yang baik, anak-anak akan menjadi generasi muda yang menyongsong masa depan bangsa dengan prestasi-prestasi. Tetapi jika yang diikuti perubahan yang tidak baik, pasti akan tersesat. Untuk itu para pelajar pandai-pandailah menentukan langkah positif demi masa depan bangsa juga masa depan diri sendiri,” pesannya.
Termasuk dengan adanya Forkare, menurutnya harus digunakan untuk membentuk generasi muda yang berprestasi. Bupati sangat respon dengan adanya kegiatan tersebut, karena akrabnya para ketua OSIS di Purworejo, menjadikan sejuk dan tenang minimal tidak ada tawuran.
Hal senada dikatakan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Drs Bambang Aryawan MM, bahwa pelajar bisa menjadi pribadi yang memiliki kecerdasan, sehat, kreatif, mandiri, demokratis dan bertanggungjawab. Untuk mewujudkan hal itu harus memiliki jiwa spiritualis. “Artinya setiap langkah didasari dengan olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga. Selalu memegang nilai-nilai keagamaan dan memberi contoh pada teman-teman sekolah, lingkungannya maupun teman-teman sekolah lain,” katanya.
Ipda Saptohado SPd MH dari Polres Purworejo menngungkapkan, pelajar memang rentan akan tindak kerasan baik dilingkungan sekolah maupun diluar sekolah. Seperti yang sering disaksikan di televise, maraknya anak-anak sekolah yang tawuran menjadi salah satu bukti pelajar mudah mengambil tindakan anarkis. Tidak hanya merusak fasilitas sekolah maupun fasilitas umum, bahkan melukai fisik yang jadi korban.
“Meskipun hanya sebagian atau beberapa anak sekolah yang terlibat dalam tindak kekerasan, tetapi kenyatan-kenyataan tersebut sebagai gambaran untuk semua pihak bisa menjadikan itu sebuah pelajaran untuk mengendalikan tindak kekerasan dalam bentuk apapun. Karena kekerasan dalam bentuk apapun baik fisik maupun non fisik akan sangat merugikan bagi dirinya juga orang lain,” katanya.








